Video Doa itu Telah Dihapus, Why?

MAKSUD hati menengok lagi video doa di sidang paripurna yang menggemparkan itu. Hanya untuk melihat sudah berapa jumlah yang melihat. Tapi apa yang terjadi, video yang diunggah di youtube tersebut, dengan link https://www.youtube.com/watch?v=iiUgLgpaB-w, sudah dihapus. Entah siapa yang menghapus. Yang pasti begitu diklik lagi, youtube menampilkan kata-kata:

This video has been removed by the user.
Sorry about that
Icon kecewa pun terlihat


Naskah doa yang dipanjatkan anggota DPR dari Partai Gerindra itu sebagai berikut:

“Wahai Allah memang semua penjara over capacity tapi kami tidak melihat ada upaya untuk mengurangi kejahatan. Karena kejahatan seperti diorganisir wahai Allah. Kami tahu pesan dari sahabat nabi-Mu, bahwa kejahatan-kejahatan ini bisa hebat, bukan karena penjahat yang hebat tapi karena orang-orang baik belum bersatu wahai Allah atau belum mendapat kesempatan di negeri ini untuk membuat kebijakan-kebijakan baik yang bisa menekan kejahatan-kejahatan itu.”

“Ya rabbalalamin, lihatlah kehidupan ekonomi kami. Bung Karno sangat khawatir bangsa kami akan menjadi kuli di negeri kami sendiri. Tapi hari ini sepertinya kami kehilangan kekuatan untuk menyetop itu bisa terjadi. Lihatlah Allah, bumi kami yang kaya dikelola oleh bangsa lain dan kulinya adalah bangsa kami.”

“Ya rabbalalamin, kehidupan sosial budaya sepertinya kami kehilangan jati diri bangsa ini yang ramah, yang santun, yang saling percaya. Ya rabbalalamin kami juga belum tahu bagaimana kekuatan pertahanan dan keamanan bangsa ini kalau suatu ketika ada bangsa lain yang akan menyerang bangsa kami.”

“Ya rahman ya rahim, tapi kami masih percaya kepada-Mu. Bahwa ketika kami masih mau menengadahkan tangan kepada-Mu itu berarti kami masih mengerti Engkau adalah tuhan kami, Engkau adalah Allah yang maha kuasa.”

“Jauhkan kami Ya Allah, dari pemimpin yang khianat, yang hanya memberikan janji-janji palsu, harapan-harapan kosong. Yang kekuasaannya bukan untuk memajukan dan melindungi rakyat ini tapi seakan-akan arogansi kekuatan berhadap-hadapan dengan kebutuhan rakyat. Dimana-mana rakyat digusur tanpa tahu ke mana mereka harus pergi. Dimana-mana rakyat kehilangan pekerjaan.

“Allah, di negeri yang kaya ini rakyat ini outsourcing wahai Allah. Tidak ada jaminan kehidupan mereka. Aparat seakan begitu antusias untuk menakuti rakyat. Hari ini di Kota Medan, Sumatra Utara 5.000 KK rakyat Indonesia sengsara dengan perlakuan aparat negara ya rabbalalamin.”

“Allah lindungilah rakyat ini, mereka banyak tidak tahu apa-apa. Mereka percayakan kendali negara dan pemerintahan kepada pemerintah. Allah, kalau ada mereka yang ingin bertaubat terimalah taubat mereka ya Allah. Tapi kalau mereka tidak bertaubat dengan kesalahan yang diperbuat, gantikan dia dengan pemimpin yang lebih baik di negeri ini  ya rabbalalamin.”


Doa tersebut menyulut pro kontra. Menjadi perdebatan di media sosial. Banyak yang mengaminkan. Tidak sedikit juga ogah mengaminkan.

Yang pahit..kadang malah menyehatkan
Yang manis-manis, malah bikin kencing manis ..:)


Harga Rokok Rp 50.000, Masih Bisa Udud Dulu Udud Dulu...?

foto ilustrasi diambil dari kompak.co
BEREDAR kabar harga rokok akan menjadi Rp 50.000 perbungkus. Bener apa ora berita kuwe, tidak terlalu berpengaruh bagi enyong. Kecuali, kalau enyong punya tukang atau tenaga kerja yang tiap hari harus disuguhi udud sebungkus. Bandar bisa tepus.


Enyong memang bukan perokok. Pernah iseng udud waktu masih bujang. Tapi udud iseng itu tidak sukses mengantarkan enyong sebagai ahli hisab, pengisap asap maksudnya. Udud-ududan itu juga tidak berhasil mewariskan kebiasaan udud Abahku.


Abah Toyib udude ndatuk. Udud kretek merek Jaya. Sejak kecil, tiap malam, saat enyong belajar, selalu ada waktu selingan. Disuruh Abah membeli rokok ke warung yang tidak jauh dari rumah. Satu bungkus rokok kretek itulah yang menemani Abah Toyib menikmati malam. Sendirian. Entahlah apa yang tengah direnungkan. Hampir tiap malam, sekitar pukul 9, Abah selalu duduk di depan rumah Joglo kuno. Kalau sudah bosan, masuk dan duduk ndeteng di kursi tamu. Tidur.


Kebiasaan udud sampe tua. Saat mulai batuk-batuk, Abah mencoba berhenti dari udud. Sebagai gantinya, selalu ngemut permen. Tapi upaya itu tidak berhasil menghilangkan keinginan udud. Abah gagal berhentik merokok. Saat usia sudah kepala tujuh, Abah berjuang lebih keras lagi untuk berhenti merokok. Berhasil! Tidak ada lagi asap rokok di rumah Joglo tua.


Apakah dengan harga rokok yang mahal bisa serta menghentikan kebiasaan merokok? Mahal itu relatif. Beberapa kali harga rokok dinaikkan, sepertinya masih terasa murah bagi perokok. Bahkan karena harga yang murah ini, anak-anak sekolah dengan mudah membeli rokok. Entah kalau harga naik menjadi Rp 50.000?


Seperti yang dilansir dalam media online, Kepala Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Hasbullah Thabrany bersama teman-temannya telah melakukan studi dan hasilnya harga rokok mempengaruhi jumlah perokok. Dari studi tersebut diketahui perokok aktif akan mulai berhenti merokok jika harga dinaikan menjadi dua kali lipat. Sebanyak 1000 orang telah disurvei dan hasilnya 72% mengaku akan berhenti merokok jika harga roko diatas angka Rp 50 ribu.


Tentu banyak aspek yang dipertimbangkan pemerintah dalam menentukan harga rokok. Tidak hanya soal aspek kesehatan, sebagai upaya menekan jumlah perokok, tetapi juga memperhatikan aspek lainnya, seperti aspek ekonomi dan industri. Tapi kalau pemerintah sudah siap dengan dampak ikutan dari kenaikan harga rokok, mengapa tidak? Jika harus dinaikkan lebih mahal lagi.

"Udud dulu..udud dulu.."










Masih Beratkah untuk Mengaminkan?

MASIH seputar doa. Ternyata doa di sidang paripurna memantik pro kontra. Setidaknya itu terjadi ketika link video doa itu, enyong lempar ke sebuah grub facebook. Ada yang tidak mau begitu saja mengaminkan. Berat hati untuk mengucap amin. Background, tempat dan pelaku yang mendoakan, seperti ikut mempengaruhi seseorang untuk mengaminkan sebuah doa.

Coba kiranya buang background, tempat dan pelaku yang mendoakan, dengan doa yang sama apakah juga berat untuk diaminkan.
Di bawah ini ada video yang kiranya cukup erat dengan doa ini:

“Allah, di negeri yang kaya ini rakyat ini outsourcing wahai Allah. Tidak ada jaminan kehidupan mereka. Aparat seakan begitu antusias untuk menakuti rakyat. Hari ini di Kota Medan, Sumatra Utara 5.000 KK rakyat Indonesia sengsara dengan perlakuan aparat negara ya rabbalalamin.”


Atau coba ketika enyong kutip berita finance.detik.com ini:

Menteri Keuangan, Sri Mulyani, mengakui kondisi Rancangan APBN (RAPBN) 2017 tidak sehat. Ini karena adanya defisit keseimbangan primer senilai Rp 111,4 triliun.

Keseimbangan primer adalah total penerimaan dikurangi belanja negara tanpa pembayaran bunga utang. Sri Mulyani mengatakan, bila keseimbangan primer ini defisit, itu berarti pemerintah menarik utang untuk membayar bunga utang.

"Keseimbangan primer yang negatif artinya pemerintah telah pada titik di mana kita meminjam untuk melakukan pembayaran interest rate. Jadi sebetulnya itu merupakan indikator bahwa kita meminjam bukan untuk investasi, tapi meminjam untuk keperluan men-service utang masa lalu," kata Sri Mulyani di kantor pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (16/8/2016).

Mantan Direktur Bank Dunia ini mengatakan, pemerintah harus berhati-hati dalam pengelolaan RAPBN 2017. "RAPBN ini sebenarnya kurang sehat, harus berhati-hati," jelasnya.


Lalu dipanjatkan doa:

"Allah, lindungilah rakyat ini, mereka banyak tidak tahu apa-apa. Mereka percayakan kendali negera dan pemerintahan kepada pemerintah. Allah, kalau ada mereka yang ingin bertaubat, terimalah taubat mereka ya Allah. Tapi kalau mereka tidak brtaubat dengan kesalahan yang dia perbuat, gantikan dia dengan pemimpin yang lebih baik di negeri ini Ya Allah."


Masih beratkah untuk mengaminkan?


Abah Tak Bakal Gagal Jadi Menteri hanya Karena Paspor

MEMBUKA google hari ini, tanggal 17 Agustus 2016, nampak beda. Gambar tiga anak pengibar bendera merah putih dipasang ditengah tulisan google. Warna tulisan juga didominasi warna merah dan background putih. Google rupanya sedang menghormati hari kemerdekaan RI.

Cerita tentang pengibar bendera, enyong sering gagal menjadi pasukan pengibar bendera. Yakinlah, bukan disebabkan oleh paspor. Tetapi memang postur enyong tidak layak menjadi pengibar bendera merah putih (paskibra), apalagi yang pusaka (paskibraka). SD sampe SMP tidak pernah menjadi pengibar bendera. Nah saat Aliyah, postur mulai kelihatan tinggi, setidaknya bukan paling kecil di sekolah, akhirnya terpilih juga menjadi bagian paskibra untuk upacara di kecamatan Lebaksiu.
Letaknya di belakang pasar Lebaksiu. Itu tak lain karena sekolah enyong masuk wilayah kecamatan Lebaksiu, MAN Babakan Lebaksiu Kabupaten Tegal.

Tentu beberapa kali latihan sebelum hari H pengibaran. Jalan dan baris saja harus dilatih yah. Padahal sudah sering baris dan jalan. Tetapi memang ini baris bukan sembarang baris. Jalan bukan sembarang jalan. Paskibra harus terlihat kompak, rapi dan tegap. Barisan enyong tidak di depan, tidak pula paling belakang. Tengah-tengah. Singkat cerita, sukses menjalankan tugas sebagai pengibar bendera merah putih dalam upacara HUT RI di kecamatan.

Tingkat kecamatan saja bikin bangga. Apalagi kalau menjadi pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka). Wajar bila Gloria kecewa setelah dinyatakan gagal karena punya paspor Perancis. Sudah berlatih berhari-hari sampai hitam. Meninggalkan pelajaran pula. Sudah pula buat cerita keluarga yang membanggakan. Namun akhirnya berakhir pahit. Gagal karena urusan paspor.
Nasibnya tidak jauh beda dengan Arcandra Tahar. Ia hanya menjadi menteri 21 hari.


Punya paspor negara lain itu sudah jelas bukan WNI. Sekalipun memegang paspor Indonesia. Dalam detik.com, Ahli Hukum Tata Negara Universitas Andalas Feri Amsari menyatakan bila Menteri ESDM Arcandra Tahar semestinya lepas status WNI-nya begitu menyatakan sumpah setia pada Amerika Serikat. Sesuai UU, Arcandra tak lagi WNI."Tanpa SK pun, status kewarganegaraan Indonesia Pak Arcandra sudah otomatis hilang karena UU 12/2006 tidak mengenal Dwi kewarganegaraan."


Gloria dan Tahar sudah semestinya legowo menerima kenyataan kalau memang faktanya memiliki paspor negara lain. Sing dadi pertanyaan, donge sing milih Gloria dan Tahar tidak mengerti betul siapa keduanya? Ini negara loh, yang tentu saja dengan mudah untuk tahu siapa yang akan dipilih. Enyong yakin, enyong tidak akan pernah gagal jadi menteri hanya karena paspor! Tetapi karena banyak faktor gagal yang lainnya..hehe (*)






Doa di Kampung yang Tak Sekritis Doa di Sidang Paripurna


DUA undangan tasyakuran HUT RI, enyong terima. Satu undangan dari RT 10 dan satunya RT 11. RT 10 mengadakan tasyakuran di kebun sawo belakang rumahku. RT 11 menggelar di jalan depan rumah. Waktu kegiatan sama persis, pukul 19.30. Akhirnya enyong putuskan mengikuti acara di RT 10, melewati tempat kegiatan RT 11.

"Terserah mas, mau ikut acara yang mana," ujar pak RT 11 saat enyong menyampaikan ada acara yang sama di RT 10, belakang rumah.

Acara tasyakuran dimulai dengan bacaan tahlil dilanjutkan dengan doa. Doa untuk para pejuang dan pahlawan yang telah berjasa bagi kemerdekaan bangsa Indonesia. Sudah pasti, doa pada umumnya. Bukan doa yang kritis seperti doa Penutupan Sidang Paripurna MPR yang dipimpin Anggota DPR Fraksi Gerindra setelah Pidato Kenegaraan Presiden Joko Widodo Tentang Nota Keuangan RAPBN 2017 di Sidang Paripurna MPR/DPR 16 Agustus 2016.

Doa itu kulihat dan kudengar di facebook dan youtube, sepulang acara syukuran di belakang rumah. Doa tersebut sudah dilihat 20.872 kali tayang. Inilah doa yang setelah selesai dipanjatkan, peserta sidang paripurna keliatan riuh rendah:







Entah apakah doa ini mewakili perasaan sampeyan? Waallahu a'lam. Aminkanlah... Amiinn.
Yang pasti, usai menggelar tasyakuran, di belakang rumah masih ramai. Acara dilanjutkan dengan final bulutangkis. Merdeka!

Maafkan, Tak Berhasil Jatuh Cinta kepada Pramuka

foto ilustrasi diambil dari deviantart.com
DARI jaman enyong sekolah SD, tiap bulan Agustus, selalu diwarnai kegiatan pramuka. Mungkin karena saat SD, badanku kecil, enyong tidak pernah ikut dalam regu yang diutus kemah di lapangan kecamatan Dukuhturi. Meski sebenarnya selalu ikut kegiatan pramuka. Enyong tergolong murid yang takut untuk membolos atau tidak mengikuti jadual kegiatan sekolah. Tetapi itu tidak mendongkrak enyong sebagai murid SD yang begitu demen pramuka. Hanya ikut pramuka sekadarnya saja.

Faktor sekadarnya itu juga mungkin yang menyebabkan enyong tidak pernah terpilih sebagai wakil yang ikut perkemahan di tingkat kecamatan. Sebenarnya sih merasa keliatan asyik melihat teman-teman berkemah di lapangan Dukuhturi. Saat musim perkemahan, enyong sempatkan melihat mereka. Jalan kaki dari rumah menuju lapangan Dukuhturi. Banyak pedagang berjualan di tepi lapangan. Mereka yang berkemah kelihatan senang sekali.

Sampai SMP, berpramuka masih hanya sebatas mengikuti jadual sekolah. Belum juga timbul rasa senang. Masih biasa-biasa saja. Malah merasa heran dengan teman yang begitu demen dengan pramuka. Berbaret, dasi pramuka dan lambang-lambang pramuka, menenteng tongkat. Tidak hanya itu, mereka hapal isi buku saku pramuka. Dari Dasa Dharma Pramuka, baris berbaris, sandi, lambang-lambang, hingga semaphore. Di SMP, agak lumayan, ikut perkemahan di sekolah karena memang wajib ikut.

Beranjak Aliyah, masih ada kegiatan pramuka. Sepertinya enyong juga masih biasa-biasa saja dengan pramuka. Badan sudah tidak paling kecil di kelas. Tapi tetap tidak menjadi penggerak pramuka di kelas. Saat kelas dua, lebih senang mengikuti kegiatan karate. Sampai sekolah di Aliyah berlalu, tidak ada kegiatan pramuka yang terasa mengesankan. Hanya jerit malam melewati kuburan yang bikin merinding. Ada kakak pramuka yang jadi pocong.

Pendek kata, sejak SD sampai SLTA, tidak menjadi siswa aktifis sekolah. Kepribadian enyong yang pendiam dan jarang main makin membuat enyong sukses menjadi kuper.  Dampak tidak menjadi aktifis sekolah baru enyong rasakan saat memasuki masa kuliah. Hingga suatu hari, di awal-awal kuliah, ikut rapat pertama kegiatan kampus, enyong begitu kagum dengan mahasiswa pemimpin rapat. Tata berbicara. Tak grogi sedikit pun. Saat itu terbentik di hati, enyong harus bisa seperti dia! Enyong harus berubah. Harus menjadi aktifis!

Kegiatan demi kegiatan kampus, enyong ikuti. Ikut apa saja. Jadi pengurus Unit Kerokhanian Islam sampai menjadi perintis teater fakultas yang diberi nama Asal. Aktif di himpunan mahasiswa jurusan dan juga HMI. Demen aktifitas kegiatan kampus melebihi demen kuliah. Enyong rasakan ada perbedaan dari sebelum dan setelah menjadi aktifis. Namun lagi-lagi kegiatan pramuka bukan pilihan.

Maafkan enyong yang tidak berhasil jatuh cinta kepada pramuka. Tapi sejatinya enyong mengagumi mereka yang aktif dalam kegiatan kepramukaan. Sungguh amat beda, mereka yang aktif dengan yang tidak. Mereka yang sudah digembleng dalam kegiatan kepramukaan, sungguh terlihat jiwa kepemimpinannya. Salam pramuka!!

Seandainya waktu kembali ke belakang, pasti enyong upayakan menjadi pramuka sejati. Ternyata menjadi aktifis kampus, enyong rasakan masih belum cukup. Sungguh! (*)





































Abah yang Tak Pernah Letih Berdagang


rumah Joglo di Pepedan, tinggalan Abah Toyib.
MEMAKAI sebutan abah bukan karena enyong latah. Sejak kecil, enyong mengundang ayah atau bapakku, dengan sebutan Abah. Toyib nama abahku. Seorang guru SD yang puluhan tahun mengajar di SD N Bandasari 1 Kecamatan Dukuhturi Tegal. Meninggalkan SD tersebut menjelang masa pensiunan. Kurang beberapa bulan pensiun dimutasi ke SD lain. Abah pensiun tahun 2007 saat enyong menghadapi masa akhir kuliah di Unsoed.

Pantesnya yang dipanggil Abah itu lelaki berperawakan tinggi besar. Tapi abah Toyib badannya kecil dan pendek. Tiap pagi, berangkat menggunakan sepeda ontel menuju sekolah. Berkat setrika jago, emakku membuat baju kerja Abah mlimping. Lurus seperti mata pisau. Saat pergi mengajar, selalu pake peci hitam.

Selain mengajar, untuk menambah penghasilan, Abah membuka usaha. Berdagang. Dahulu Pepedan Kecamatan Dukuhturi dikenal sebagai sentra usaha sepatu sandal. Banyak warga memproduksi sepatu sandal. Saat enyong masih SD, rumah joglo kuno tempat tinggalku dipenuhi dengan rak
untuk menumpuk "hak". Hak itu adalah bawahan sandal yang terbuat dari kayu.

Abah memang memproduksi hak. Tempat produksi hak berada di Desa Lebeteng Kecamatan Tarub, desa asal emakku. Enyong hanya lihat tempat produksi itu dari foto. Abah menggendong enyong yang masih bayi berfoto dengan beberapa pekerja. Kumis Abah njetet. Matanya tajam. Foto tanpa senyum.

Usaha produksi hak mengalami kejayaan. Abah bisa "njujuli" rumah joglo besar milik orang tuanya. Usaha tersebut mulai surut seiring dengan makin banyaknya sepatu sandal pabrikan. Bawahan sepatu atau sandal, tidak dari kayu. Tetapi dari karet yang diproduksi pabrik. Usaha produksi hak akhirnya benar-benar berhenti. Enyong esih duduk di SD Pepedan 1 Kecamatan Dukuhturi.

Abah terus mencoba usaha baru. Pernah beternak bebek di samping rumah. Piara bebek sejak kecil hingga bertelor. Telor tersebut dibuat menjadi endog asin. Emak ikut jualan endog asin ke pasar Banjaran. Beberapa kali emak dimarahi pedagang telur asin gara-gara jual telor asin terlalu murah. Enyong tak sanggup membayangkan emak jualan telor asin di pinggiran pasar Banjaran. Emak tak biasa berdagang. Selama ini hanya menjadi ibu rumah tangga.

Usaha telor asin tidak lancar. Akhirnya berhenti. Bebek dijual. Abah terus berusaha. Ia mencoba kulak buah jeruk. Enyong yang masih SD hanya bisa lihat beberapa tong dari kayu berisi buah. Suatu hari, Emak bawa semua buah itu ke pasar pagi. Ia coba bantu Abah jual buah ke pasar pagi. Benar buah itu bisa emak jual. Tetapi dijual rugi. Kasihan liat emak bengong karena menjual buah rugi. Abah yang biasanya galak juga seperti tak tega untuk marah. Ia ikhlaskan usaha rugi.

Usaha dagang buah gagal. Enyong beranjak masuk sekolah SMP N 1 Talang. Abah membuka usaha kayu bakar. Ia datangkan kayu rencek dari Bojong. Rekan bisnis saat membuat hak kembali bermitra dalam usaha kayu bakar. Panggilannya Man Salam. Sekarang rumahnya pinggir jalan dekat pasar Bojong. Beberapa kali, enyong mampir ke rumahnya. Sudah seperti saudara.

Uang jualan kayu rencek itu yang menjadi uang saku enyong sekolah SMP. Hasil usaha itu kata Abah tidak banyak. Tapi terus ditelateni. Namun akhirnya juga berhenti. Abah terus berpikir usaha baru. Saat enyong sekolah Aliyah, Abah merintis usaha karet spon. Beberapa kali menemui tetangganya yang sering ke Jakarta untuk bisa membawa karet spon dari Jakarta. Buat apa karet spon? Karet spon itu menjadi bahan baku sandal yang masih diproduksi warga Pepedan. Alas sandal memakai lapisan karet spon.  Tumpukan karet spon yang berbentuk potongan memanjang berhasil didatangkan. Meski kotor, tetapi laku juga dijual untuk bahan baku sandal.

Setelah mendatangkan spon, mitra Abah bisa mendatangkan berkarung-karung potongan plastik. Ini juga menjadi bahan baku membuat sandal. Jadi, warga Pepedan mayoritas membuat sandal dengan bahan kiloan dan bs (dibaca beesan). Mungkin bahan baku yang asli terlalu mahal. Sementara harga jual sandal murah. Usaha spon dan plastik lumayan menguntungkan dan mengalami perkembangan. Spon semula yang didatangkan potongan, ada yang bisa membawa spon lembaran. Warga Tegalwangi, bernama As'ari, mantu kyai Jarmudi, yang bisa mendatangkan spon lembaran itu dan bersih. Tiap datang, enyong yang kulakan untuk dijual kiloan kembali.

Dari dagang karet spon ini, ditambah gaji guru biasa, Abah menguliahkan enyong dan kakak perempuanku. Hingga abah pensiun dan kedua anak pragat kuliah, usaha diakhiri. Tidak ada dagangan lagi. Giliran dua anak yang berjuang untuk hidup mandiri. Uang pensiun dikumpulkan. Ditabung untuk berangkat haji. Alhamdulillah, Abah dan Emak bisa berhaji pada tahun 2013. Seminggu setelah pulang memenuhi panggilan Allah ke Mekkah, Abah kembali memenuhi panggilan Allah. Beliau meninggal di rumah sakit. Allahummaghfirlahu..alfatikhah

Abah tak pernah letih berwiraswasta untuk menafkahi keluarga, menyekolahkan anak-anaknya.  Kini enyong sudah menjadi abah dari kedua anakku, Zidan dan Hanum. Ya Allah, kini giliranku untuk tidak letih berwiraswasta. Posisi kerja yang kini terjun bebas menjadi staf marketing tentu hasilnya tidak cukup. Doakan, Abah Abduh tidak kalah kuat dari Abah Toyib! Apalagi enyong yang lebih pantas dipanggil Abah, karena lebih tinggi dan gendut. hehe  (*)














Potji.com, Produk Lokal Promosi Global


Screenshots potji.com


PADA Kamis tanggal 26 Mei 2016, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tegal melaunching potji.com. Sebuah portal marketplace produk IKM/UKM di daerah yang dikenal dengan sebutan jepangnya indonesia itu. Domain POTJI itu sendiri merupakan singkatan Portal Tegal Jepangnya Indonesia.


Kabupaten Tegal memiliki potensi IKM/UKM cukup besar yang mampu menopang perekenomian warga setempat. Beberapa potensi tersebut di antaranya industri pengecoran dan pengerjaan logam, industri tekstil (tenun dan bordir), dan industri shuttlecock serta industri rumah tangga lainnya. Karena itu, di era internet, pembuatan potji.com merupakan langkah yang strategis. Mengapa?

Wabup Kab. Tegal Dra Umi Azizah usai nabuh
gong louncing potji.com. foto diambil dan seizin
dari panturabisnis.com
Sejak 31 Desember 2015, kita sudah memasuki MEA (Masyarakat Ekonomi Asean). Dengan diberlakukannya MEA, mau tidak mau, semua harus menyiapkan diri. Jika tidak mau mengembangkan diri dan kompetensi di era MEA, bisa dipastikan tergilas oleh kompetitor dari luar. Sementara kompetitor sudah menggunakan internet untuk memasarkan produknya.

Internet yang penggunanya terus meningkat telah terbukti mempermudah dalam berkomunikasi serta memperoleh informasi dengan cepat dan akurat. Tidak hanya itu, dengan internet, semua bisa memperkenalkan produk dan memasarkannya dengan daerah pemasaran yang luas. Bahkan dapat menjangkau seluruh dunia.

Langkah Pemkab Tegal membuat potji.com tersebut sudah seharusnya menjadi kabar baik bagi pelaku usaha. Dengan inovasi daerah tersebut, para pengusaha setempat bisa mempromosikan produknya secara gratis, tidak hanya tingkat nasional tetapi juga di pentas global.  Namun sebagai portal yang belum lama dilahirkan tentu saja masih banyak tantangan dan hambatan. Masih banyak langkah yang harus dikerjakan agar portal tersebut berfungsi dengan baik.

Dari sisi website, tantangan potji.com adalah bagaimana potji.com harus bisa menjadi situs yang berkualitas, baik dari sisi konten, desain dan navigasi, maupun kepopuleran website.

Sebagai marketplace usaha atau produk UKM/IKM, secara konten, potji.com harus menyuguhkan informasi usaha atau produk sejelas-jelasnya yang disertai dengan foto yang menarik. Sehingga pengunjung potji.com dapat memperoleh informasi yang lengkap. Desain dan navigasi potji.com juga akan menentukan pengunjung betah dan terus kembali menelusuri potji.com.  

Untuk mendapatkan banyak pengunjung, pengelola potji.com harus terus meningkatkan kepopuleran website tersebut. Potji.com harus mempunyai posisi yang tinggi di mesin penelusuran. Dengan demikian, peluang terjadi transaksi  jual beli makin besar. Apalagi saat ini, makin banyak pengguna internet yang menggunakan mesin pencarian google untuk mencari produk atau informasi. Mengingat hal tersebut, perlu peningkatan SDM pengelola potji.com.

Tantangan selanjutnya adalah kesiapan para pengusaha yang produknya dipasang di potji.com. Dalam portal tersebut, terdapat tool untuk para pelaku usaha di Kabupaten Tegal mendaftarkan produk atau kemampuan produksi ke potji.com. Namun baru dipublikasikan setelah diverifikasi oleh pengelola potji.com. Tentu saja yang lolos verifikasi adalah pelaku usaha yang dinilai sudah siap. Karena, dalam potji.com, pengunjung yang berniat membeli produk langsung menghubungi pengusahanya, baik lewat email maupun nomor telp/handphone. Pengusaha harus siap menghadapi calon konsumen. Mereka harus siap memberi pelayanan yang baik, dari sisi kuantitas dan kualitas produk yang diminta konsumen maupun pengiriman.

Potji.com harus terus melangkah. Tantangan dan hambatan tersebut bukan untuk dihindari. Cerita manfaat potji.com sedikit demi sedikit menjadi bukti. Salah satunya, cerita Fatkhuri, pemilik Tunggak Jati Craft Art yang mendapat order pembuatan piring kayu dari pengunjung potji.com. Dari sedikit cerita itu, inovasi daerah Pemkab Tegal ini bisa dijadikan inspirasi daerah lain untuk Indonesia lebih maju di era MEA. (*)

Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahku https://www.goodnewsfromindonesia.org/competition/inovasidaerahku
 
Lazada Indonesia