Doa di Kampung yang Tak Sekritis Doa di Sidang Paripurna
DUA undangan tasyakuran HUT RI, enyong terima. Satu undangan dari RT 10 dan satunya RT 11. RT 10 mengadakan tasyakuran di kebun sawo belakang rumahku. RT 11 menggelar di jalan depan rumah. Waktu kegiatan sama persis, pukul 19.30. Akhirnya enyong putuskan mengikuti acara di RT 10, melewati tempat kegiatan RT 11.
"Terserah mas, mau ikut acara yang mana," ujar pak RT 11 saat enyong menyampaikan ada acara yang sama di RT 10, belakang rumah.
Acara tasyakuran dimulai dengan bacaan tahlil dilanjutkan dengan doa. Doa untuk para pejuang dan pahlawan yang telah berjasa bagi kemerdekaan bangsa Indonesia. Sudah pasti, doa pada umumnya. Bukan doa yang kritis seperti doa Penutupan Sidang Paripurna MPR yang dipimpin Anggota DPR Fraksi Gerindra setelah Pidato Kenegaraan Presiden Joko Widodo Tentang Nota Keuangan RAPBN 2017 di Sidang Paripurna MPR/DPR 16 Agustus 2016.
Doa itu kulihat dan kudengar di facebook dan youtube, sepulang acara syukuran di belakang rumah. Doa tersebut sudah dilihat 20.872 kali tayang. Inilah doa yang setelah selesai dipanjatkan, peserta sidang paripurna keliatan riuh rendah:
Entah apakah doa ini mewakili perasaan sampeyan? Waallahu a'lam. Aminkanlah... Amiinn.
Yang pasti, usai menggelar tasyakuran, di belakang rumah masih ramai. Acara dilanjutkan dengan final bulutangkis. Merdeka!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

