![]() |
| foto ilustrasi diambil dari deviantart.com |
Faktor sekadarnya itu juga mungkin yang menyebabkan enyong tidak pernah terpilih sebagai wakil yang ikut perkemahan di tingkat kecamatan. Sebenarnya sih merasa keliatan asyik melihat teman-teman berkemah di lapangan Dukuhturi. Saat musim perkemahan, enyong sempatkan melihat mereka. Jalan kaki dari rumah menuju lapangan Dukuhturi. Banyak pedagang berjualan di tepi lapangan. Mereka yang berkemah kelihatan senang sekali.
Sampai SMP, berpramuka masih hanya sebatas mengikuti jadual sekolah. Belum juga timbul rasa senang. Masih biasa-biasa saja. Malah merasa heran dengan teman yang begitu demen dengan pramuka. Berbaret, dasi pramuka dan lambang-lambang pramuka, menenteng tongkat. Tidak hanya itu, mereka hapal isi buku saku pramuka. Dari Dasa Dharma Pramuka, baris berbaris, sandi, lambang-lambang, hingga semaphore. Di SMP, agak lumayan, ikut perkemahan di sekolah karena memang wajib ikut.
Beranjak Aliyah, masih ada kegiatan pramuka. Sepertinya enyong juga masih biasa-biasa saja dengan pramuka. Badan sudah tidak paling kecil di kelas. Tapi tetap tidak menjadi penggerak pramuka di kelas. Saat kelas dua, lebih senang mengikuti kegiatan karate. Sampai sekolah di Aliyah berlalu, tidak ada kegiatan pramuka yang terasa mengesankan. Hanya jerit malam melewati kuburan yang bikin merinding. Ada kakak pramuka yang jadi pocong.
Pendek kata, sejak SD sampai SLTA, tidak menjadi siswa aktifis sekolah. Kepribadian enyong yang pendiam dan jarang main makin membuat enyong sukses menjadi kuper. Dampak tidak menjadi aktifis sekolah baru enyong rasakan saat memasuki masa kuliah. Hingga suatu hari, di awal-awal kuliah, ikut rapat pertama kegiatan kampus, enyong begitu kagum dengan mahasiswa pemimpin rapat. Tata berbicara. Tak grogi sedikit pun. Saat itu terbentik di hati, enyong harus bisa seperti dia! Enyong harus berubah. Harus menjadi aktifis!
Kegiatan demi kegiatan kampus, enyong ikuti. Ikut apa saja. Jadi pengurus Unit Kerokhanian Islam sampai menjadi perintis teater fakultas yang diberi nama Asal. Aktif di himpunan mahasiswa jurusan dan juga HMI. Demen aktifitas kegiatan kampus melebihi demen kuliah. Enyong rasakan ada perbedaan dari sebelum dan setelah menjadi aktifis. Namun lagi-lagi kegiatan pramuka bukan pilihan.
Maafkan enyong yang tidak berhasil jatuh cinta kepada pramuka. Tapi sejatinya enyong mengagumi mereka yang aktif dalam kegiatan kepramukaan. Sungguh amat beda, mereka yang aktif dengan yang tidak. Mereka yang sudah digembleng dalam kegiatan kepramukaan, sungguh terlihat jiwa kepemimpinannya. Salam pramuka!!
Seandainya waktu kembali ke belakang, pasti enyong upayakan menjadi pramuka sejati. Ternyata menjadi aktifis kampus, enyong rasakan masih belum cukup. Sungguh! (*)


