![]() |
| rumah Joglo di Pepedan, tinggalan Abah Toyib. |
Pantesnya yang dipanggil Abah itu lelaki berperawakan tinggi besar. Tapi abah Toyib badannya kecil dan pendek. Tiap pagi, berangkat menggunakan sepeda ontel menuju sekolah. Berkat setrika jago, emakku membuat baju kerja Abah mlimping. Lurus seperti mata pisau. Saat pergi mengajar, selalu pake peci hitam.
Selain mengajar, untuk menambah penghasilan, Abah membuka usaha. Berdagang. Dahulu Pepedan Kecamatan Dukuhturi dikenal sebagai sentra usaha sepatu sandal. Banyak warga memproduksi sepatu sandal. Saat enyong masih SD, rumah joglo kuno tempat tinggalku dipenuhi dengan rak
untuk menumpuk "hak". Hak itu adalah bawahan sandal yang terbuat dari kayu.
Abah memang memproduksi hak. Tempat produksi hak berada di Desa Lebeteng Kecamatan Tarub, desa asal emakku. Enyong hanya lihat tempat produksi itu dari foto. Abah menggendong enyong yang masih bayi berfoto dengan beberapa pekerja. Kumis Abah njetet. Matanya tajam. Foto tanpa senyum.
Usaha produksi hak mengalami kejayaan. Abah bisa "njujuli" rumah joglo besar milik orang tuanya. Usaha tersebut mulai surut seiring dengan makin banyaknya sepatu sandal pabrikan. Bawahan sepatu atau sandal, tidak dari kayu. Tetapi dari karet yang diproduksi pabrik. Usaha produksi hak akhirnya benar-benar berhenti. Enyong esih duduk di SD Pepedan 1 Kecamatan Dukuhturi.
Abah terus mencoba usaha baru. Pernah beternak bebek di samping rumah. Piara bebek sejak kecil hingga bertelor. Telor tersebut dibuat menjadi endog asin. Emak ikut jualan endog asin ke pasar Banjaran. Beberapa kali emak dimarahi pedagang telur asin gara-gara jual telor asin terlalu murah. Enyong tak sanggup membayangkan emak jualan telor asin di pinggiran pasar Banjaran. Emak tak biasa berdagang. Selama ini hanya menjadi ibu rumah tangga.
Usaha telor asin tidak lancar. Akhirnya berhenti. Bebek dijual. Abah terus berusaha. Ia mencoba kulak buah jeruk. Enyong yang masih SD hanya bisa lihat beberapa tong dari kayu berisi buah. Suatu hari, Emak bawa semua buah itu ke pasar pagi. Ia coba bantu Abah jual buah ke pasar pagi. Benar buah itu bisa emak jual. Tetapi dijual rugi. Kasihan liat emak bengong karena menjual buah rugi. Abah yang biasanya galak juga seperti tak tega untuk marah. Ia ikhlaskan usaha rugi.
Usaha dagang buah gagal. Enyong beranjak masuk sekolah SMP N 1 Talang. Abah membuka usaha kayu bakar. Ia datangkan kayu rencek dari Bojong. Rekan bisnis saat membuat hak kembali bermitra dalam usaha kayu bakar. Panggilannya Man Salam. Sekarang rumahnya pinggir jalan dekat pasar Bojong. Beberapa kali, enyong mampir ke rumahnya. Sudah seperti saudara.
Uang jualan kayu rencek itu yang menjadi uang saku enyong sekolah SMP. Hasil usaha itu kata Abah tidak banyak. Tapi terus ditelateni. Namun akhirnya juga berhenti. Abah terus berpikir usaha baru. Saat enyong sekolah Aliyah, Abah merintis usaha karet spon. Beberapa kali menemui tetangganya yang sering ke Jakarta untuk bisa membawa karet spon dari Jakarta. Buat apa karet spon? Karet spon itu menjadi bahan baku sandal yang masih diproduksi warga Pepedan. Alas sandal memakai lapisan karet spon. Tumpukan karet spon yang berbentuk potongan memanjang berhasil didatangkan. Meski kotor, tetapi laku juga dijual untuk bahan baku sandal.
Setelah mendatangkan spon, mitra Abah bisa mendatangkan berkarung-karung potongan plastik. Ini juga menjadi bahan baku membuat sandal. Jadi, warga Pepedan mayoritas membuat sandal dengan bahan kiloan dan bs (dibaca beesan). Mungkin bahan baku yang asli terlalu mahal. Sementara harga jual sandal murah. Usaha spon dan plastik lumayan menguntungkan dan mengalami perkembangan. Spon semula yang didatangkan potongan, ada yang bisa membawa spon lembaran. Warga Tegalwangi, bernama As'ari, mantu kyai Jarmudi, yang bisa mendatangkan spon lembaran itu dan bersih. Tiap datang, enyong yang kulakan untuk dijual kiloan kembali.
Dari dagang karet spon ini, ditambah gaji guru biasa, Abah menguliahkan enyong dan kakak perempuanku. Hingga abah pensiun dan kedua anak pragat kuliah, usaha diakhiri. Tidak ada dagangan lagi. Giliran dua anak yang berjuang untuk hidup mandiri. Uang pensiun dikumpulkan. Ditabung untuk berangkat haji. Alhamdulillah, Abah dan Emak bisa berhaji pada tahun 2013. Seminggu setelah pulang memenuhi panggilan Allah ke Mekkah, Abah kembali memenuhi panggilan Allah. Beliau meninggal di rumah sakit. Allahummaghfirlahu..alfatikhah
Abah tak pernah letih berwiraswasta untuk menafkahi keluarga, menyekolahkan anak-anaknya. Kini enyong sudah menjadi abah dari kedua anakku, Zidan dan Hanum. Ya Allah, kini giliranku untuk tidak letih berwiraswasta. Posisi kerja yang kini terjun bebas menjadi staf marketing tentu hasilnya tidak cukup. Doakan, Abah Abduh tidak kalah kuat dari Abah Toyib! Apalagi enyong yang lebih pantas dipanggil Abah, karena lebih tinggi dan gendut. hehe (*)


