![]() |
| foto ilustrasi diambil dari kompak.co |
Enyong memang bukan perokok. Pernah iseng udud waktu masih bujang. Tapi udud iseng itu tidak sukses mengantarkan enyong sebagai ahli hisab, pengisap asap maksudnya. Udud-ududan itu juga tidak berhasil mewariskan kebiasaan udud Abahku.
Abah Toyib udude ndatuk. Udud kretek merek Jaya. Sejak kecil, tiap malam, saat enyong belajar, selalu ada waktu selingan. Disuruh Abah membeli rokok ke warung yang tidak jauh dari rumah. Satu bungkus rokok kretek itulah yang menemani Abah Toyib menikmati malam. Sendirian. Entahlah apa yang tengah direnungkan. Hampir tiap malam, sekitar pukul 9, Abah selalu duduk di depan rumah Joglo kuno. Kalau sudah bosan, masuk dan duduk ndeteng di kursi tamu. Tidur.
Kebiasaan udud sampe tua. Saat mulai batuk-batuk, Abah mencoba berhenti dari udud. Sebagai gantinya, selalu ngemut permen. Tapi upaya itu tidak berhasil menghilangkan keinginan udud. Abah gagal berhentik merokok. Saat usia sudah kepala tujuh, Abah berjuang lebih keras lagi untuk berhenti merokok. Berhasil! Tidak ada lagi asap rokok di rumah Joglo tua.
Apakah dengan harga rokok yang mahal bisa serta menghentikan kebiasaan merokok? Mahal itu relatif. Beberapa kali harga rokok dinaikkan, sepertinya masih terasa murah bagi perokok. Bahkan karena harga yang murah ini, anak-anak sekolah dengan mudah membeli rokok. Entah kalau harga naik menjadi Rp 50.000?
Seperti yang dilansir dalam media online, Kepala Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Hasbullah Thabrany bersama teman-temannya telah melakukan studi dan hasilnya harga rokok mempengaruhi jumlah perokok. Dari studi tersebut diketahui perokok aktif akan mulai berhenti merokok jika harga dinaikan menjadi dua kali lipat. Sebanyak 1000 orang telah disurvei dan hasilnya 72% mengaku akan berhenti merokok jika harga roko diatas angka Rp 50 ribu.
Tentu banyak aspek yang dipertimbangkan pemerintah dalam menentukan harga rokok. Tidak hanya soal aspek kesehatan, sebagai upaya menekan jumlah perokok, tetapi juga memperhatikan aspek lainnya, seperti aspek ekonomi dan industri. Tapi kalau pemerintah sudah siap dengan dampak ikutan dari kenaikan harga rokok, mengapa tidak? Jika harus dinaikkan lebih mahal lagi.
"Udud dulu..udud dulu.."



mantap artikelnya....
BalasHapussemoga mengurangi perokok yermasuk saya.. hehehe...
info mobil honda silahkan di
www.honda-raya.com
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapus